Tidak Masalah Liverpool Gagal Menjadi Juara, Asal…

img
Sep
13

Liverpool telah melakukan belanja besar pada musim panas ini. Walaupun begitu, ‘Si Merah’ disebut tidak wajib memenangkan trofi. Kenapa begitu?

Liverpool menghabiskan sekitar 160 juta poundsterling untuk merekrut pemain baru. Alisson Becker, Fabinho dan Naby Keita adalah deretan pemain mahalnya.

Oleh karena itu, wajar jika Liverpool dituntut untuk segera mendapatkan trofi. Apalagi terakhir kali The Reds menjadi juara adalah di musim 2011/2012 saat memenangkan Piala Liga Inggris.

Selama dibesut Juergen Klopp, Liverpool berulang kali menjadi runnerup. Mereka gagal di final Piala Liga Inggris 2015/2016, final Liga Europa 2015/2016 dan terakhir di final Liga Champions musim lalu.

Liverpool memang kembali finis di posisi 4 besar pada musim lalu. Akan tetapi mereka ketinggalan 25 poin dari Manchester City yang tampil menjadi juara.

Eks pemain Liverpool, John Barnes, pun angkat suara. Dia mengatakan jika lebih baik buat mereka untuk bisa finis sedekat-dekatnya dengan City daripada meraih gelar domestik semacam Piala FA atau Piala Liga Inggris. Barnes lebih memilih Liverpool untuk memangkas jarak dengan The Citizens.

“Apakah kami lebih suka mengangkat piala dan memenangkan Piala Liga Inggris, lantas finis 25 poin di bawah Manchester City? Atau finis di posisi 2 di bawah mereka dengan selisih cuma 3 poin, meskipun tak mendapatkan piala?” kata Barnes.

“Buat saya itu lebih penting. Itu menunjukkan perkembangan. Itu juga menunjukkan jika Anda akan konsisten menjadi pesaing lawan di level yang paling tinggi di liga dan otomatis akan bersaing juga di kompetisi domestik lainnya” lanjut pria berusia 54 tahun itu.

“Jadi ide untuk mengangkat piala buat saya tidak begitu penting daripada mendekatkan diri ke papan atas. Kalau Anda makin dekat dengan papan atas Premier League, itu berarti tim akan konsisten memenangkan pertandingan dan bermain dengan baik. Itu akan membantu Anda di kompetisi lainnya” sambung Barnes.

“Memang menyenangkan memenangkan trofi. Namun saya lebih memilih untuk tidak memenanginya dan finis di peringkat 2 dengan selisih cuma 7 atau 8 poin dari tim di puncak klasemen” tutup pria kelahiran Kingston, 11 November 1963 itu.