Jangan Terlalu Berharap Kepada Frank Lampard

img
Jul
11

 

Pendukung Chelsea pasti sedang berada dalam posisi dilema. Ada yang senang karena Frank Lampard pulang dan menjadi manajer, namun tidak sedikit juga yang meragukan kualitasnya sebagai pelatih.

Saya menulis artikel ini sebagai pendukung Chelsea yang subjektif. Kalau ada yang setuju dengan artikel saya ini, terimakasih. Kalau ada yang tidak setuju, maka tidak masalah karena kita malah bisa saling bertukar pikiran.

Welcome Home Frank Lampard’, akhirnya The Blues menyelesaikan proses transfer kepindahan Lampard dari Derby County. Lampard pun dikontrak selama 3 musim untuk memimpin Chelsea.

“Saya amat bangga bisa kembali ke Chelsea sebagai manajer. Semua orang tau betapa besarnya cinta saya kepada klub dan sejarah yang sudah saya ukir disini. Saat ini satu-satunya fokus saya adalah untuk mempersiapkan musim depan” ucap Lampard di dalam situs resmi ‘Si Biru’.

Pada musim lalu, Lampard mencuri panggung sepakbola dengan menukangi Derby (tim Championship Division). Rekornya juga tidak buruk-buruk amat, justru Lampard membuat sebuah kejutan dengan mendepak Manchester United di Piala Liga Inggris dan hampir membawa The Rams promosi ke Premier League.

Saat Maurizio Sarri meninggalkan kursi manajer, gosip mengenai perekrutan Lampard telah mengalir deras. Jika memakai logika, cuma pria berusia 41 tahun itu yang memang menjadi pilihan.

Soalnya karena begini, pelatih mana yang mau melatih sebuah klub yang dilarang membeli pemain selama 2 bursa transfer, yakni pada musim panas 2019 dan musim dingin 2020? Toh namanya juga pelatih baru, pasti akan membawa sebuah ide baru sekaligus pemain baru bukan?

Apalagi dengan pemecatan manajer di Chelsea yang telah menjadi tradisi. Antonio Conte dan Sarri sebenarnya juga telah mempersembahkan piala. Melihat ke belakang, bahkan Roberto Di Matteo juga sudah memberikan trofi Liga Champions untuk pertama kalinya buat klub asal London Barat itu. Namun ya, semua nama-nama tersebut dipecat oleh Roman Abramovich selaku pemilik Chelsea.

Menurut pendapat saya, ada 2 alasan itu sudah membuat para pelatih mikir ratusan kali. Melatih Chelsea sama saja dengan percobaan bunuh diri.

Kabarnya, Abramovic memberikan janji kepada Lampard untuk tak memecatnya. Banyak juga pengamat sepakbola yang menilai, Lampard bakal lebih memoles tim muda Chelsea mengingat The Blues mempunyai banyak talenta, akan tetapi selalu terbuang percuma.

Pada awalnya saya tak setuju kalau Lampard melatih Chelsea. Lampard bisa apa? Pengalaman apa yang dimilikinya?

Melatih Derby belum menjadi jaminan. Apalagi Premier League sungguh liga yang keras dengan persaingan yang sangat ketat. Di Mancheter City ada Josep Guardiola, Liverpool memiliki Juergen Klopp dan ada Mauricio Pochettino di Tottenham Hotspur.

Si nama terakhir, meskipun sudah lama di Premier League dan memoles para pemain muda, belum juga pernah mendapatkan apa-apa kan? Ya jadi sekali lagi, Lampard bisa apa? Duh, amit-amit deh jika malah menjadi tim papan tengah.

Tapi saya kembali merenung dan melihat kembali video Lampard di Chelsea. Saya ingin mengenal Lampard lebih dalam sambil membuang pikiran pesimis mengenainya untuk menjadi pelatih Chelsea.

Benar Lampard merupakan legenda klub. Lampard juga pencetak gol terbanyak ‘Si Biru’ dengan 211 gol, yang mana posisinya bukanlah seorang penyerang.

Lampard sudah memenangkan banyak gelar di Chelsea, dari Piala Liga Inggris sampai Liga Champions. Walaupun bergonta-ganti pelatih, pria kelahiran Romford, 20 Juni 1978 itu tetap menjadi pilihan utama sebagai motor serangan Chelsea.

Lampard merupakan seorang petarung sejati. Lampard selalu bermain konsisten, pekerja keras dan profesional di dalam lapangan ketika dia bermain. Apalagi waktu bermain buat City ketika melawan Chelsea, dia tetap mencetak gol ke gawang The Blues.

Oleh karena itu saya melapangkan hati untuk kembali menerima Lampard di Chelsea. Saya tau Lampard bukan sekedar pribadi yang biasa-biasa saja. Lampard sangat luar biasa, malah mempunyai IQ sebesar 150 yang angka itu merupakan di atas rata-rata IQ pesepakbola (cuma 0,1% orang di Inggris yang memiliki tingkat kecerdasan dengan IQ segitu).

Ya, biarlah Lampard menjadi pelatih Chelsea. Tapi jangan berharap apapun dari Lampard, nikmati saja gaya melatihnya. Percayalah, Lampard juga tidak mau Chelsea bermain jelek. Hati dia buat Chelsea tidak perlu diragukan lagi.

Tak menjadi juara pada musim depan sepertinya tidak masalah. Asal permainanna sudah nyetel di hati pendukung Chelsea, rasanya kita dapat menerima dengan lapang dada dan menantikan piala pada musim-musim selanjutnya.

Jangan terlalu berharap kepada Super Frank, setidaknya dalam satu atau dua musim inilah.